Dalammasyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk Dalamcerita rakyat sasak kali ini saya mencoba memposting berbagai adegan cerita melalui bentuk drama. Cerita Sabuk Bidadari adalah salah satu cerita yang disadur dari berbagai sumber yang langsung di dalam masyarakat sasak Lombok, namun kali ini tulisan kisah yang di dalamnya masih menggunakan bahasa sasak (Lombok) dan hal-hal yang belum Ceritarakyat Gumi Sasak yang semakin hari semakin memudar karena "serangan" modernisasi dan juga karena kurangnya kepedulian. Berceritakan tentang kakak adik yang bertentangan sifat. Dua tokoh yang pasti ada pada setiap cerita rakyat di Nusantara ini, dua karakter yang pasti ada dalam hidup ini. Cupak dan Gerantang. Antagonis dan protagonis. Sebagaisalah satu kampung yang mempertahankan tradisi dan budaya suku Sasak, kedatangan wisatawan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sini. "Papu" dalam bahasa Sasak bermakna nenek, sedangkan "Linip" adalah nama anak pertamanya. Sebelum menjadi nenek, ia dikenal sebagai Ina Linip, atau ibunya Linip. Bahasayang digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat Sasak pada umumnya ialah bahasa Sasak. Namun, dalam . lingkungan . kampung Sade, dialeg bahasa Sasak diba. gi menjadi dua jenis, antara lain: bahasa kasar Sasak (base jamak) yang digunakan sehari-hari dan bahasa halus Sasak (base dalem contohnya terima kasih 'matur tampiaseh' ) yang Dalamdunia kesastraan Indonesia dikenal adanya penanaman sastra melayu lama yang meujuk kepada berbagai jenis sastra rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat membedakan sastra rakyat Melayu lama kedalam lima macam yaitu (i) cerita asal-usul, (ii) cerita binatang, (iii)cerita jenaka, (iv) cerita pelipur lara dan (v) pantun. . ArticlePDF Available AbstractIn this paper, there are two problems to be answered, namely are 1 the comparison between Sasak and Samawa folktales and 2 the description of Sasak and Samawa people based on the folktales. The folktales used as data are 1 Batu Goloq Sasak and Batu Plantolan Samawa; Mandalika Sasak and Lala Buntar Samawa; and 3 Tegodek dait Tetuntel Sasak and Ne Bote Ne Kakura Samawa. Data are gathered through library research. Problems are answered using Levi-Strauss structural theory saying that tale is the gate of understanding the people. It is found that the relation of each group of tales shows a consistency in similarities and differences. Batu Goloq and Batu Plantolan give a description that Sasak people tend to solve problems by themselves as a consequence of being closed people, while Samawa people tend to invite others in solving their problems as a consequence of being opened people. The similar characters found in Mandalika and Lala Buntar specifically in miteme processing, in taking decision, and solving problems. Mandalika is characterized as a closed figure, while Lala Buntar is an opened one in deciding and solving the problems. The comparison between Tegodek dait Tetuntel and Ne Bote Ne Kakura shows that Sasak and Samawa people tend to protest any mistreatment from high class community toward a lower class community. It is the manifestation of the same view toward refusal and disagreement to the oppression done by high status people. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. A preview of the PDF is not available ... Sesuai dengan UU Sisdiknas No 20 tahun 2003, kompetensi muatan lokal dapat berupa bahasa daerah, adat istiadat, kesenian daerah, dan hal lain yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah masing-masing terutama ciri khas dari sumbawa itu sendiri. Untuk provinsi NTB, pembelajaran muatan lokal yang diajarkan di Sekolah Dasar berisi mata pelajaran Bahasa, Sastra, dan Budaya Sumbawa Bahri, 2018. Pembelajaran aksara lokal satera jontal sumbawa bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siawa terhadap aksara jontal sumbawa tersebut yang meliputi empat aspek keterampilan dan bahasa pada siswa yaitu keterampilan dalam mendengarkan guru menjelaskan, berbicara dengan mennggunakan aksara, membaca huruf aksara, dan menulis Aksara Marliana & Jazadi, 2020. ...Gina AnggrainiAsrin AsrinThe local script is one of the nation's cultural treasures. One of the local characters owned by the Indonesian people is the Satera Jontal script. Satera Jontal is a local script from Sumbawa, West Nusa Tenggara. This script is used to write and read the Sumbawa language which was spoken on the western part of the island of Sumbawa in the past. The purpose of this research is to increase student interest in learning Sumbawa script through interactive learning media. Research Methods This research uses a quantitative descriptive approach. Retrieval of data in this study was collected through a survey method by distributing questionnaires to elementary school SD children in grade VI six. The survey was conducted to determine the interest in learning Sumbawa Sumatran Jontal characters through the use of interactive learning media. The results showed that students' interest in Sumbawa script was still very low. Therefore, efforts are made to increase student interest in learning Sumbawa script. These efforts must pay attention to the following the interactive learning media used must be appropriate so that it makes it easier for students to learn Sumbawa script.... Selain itu dalam lingkungan keluarga orang tua cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari baik itu dengan keluarga maupun anak-anak. Orang tua jarang mengajarkan bahasa daerah atau sekedar mengenalkan aksara Sasak pada anak-anaknya Bahri, 2018. ...Aksara sasak merupakan warisan kebudayaan suku sasak yang memiliki identitas, keunikan tersendiri dan patut dilestarikan. Keberadaan aksara sasak saat ini semakin terkikis seiring perkembangan globalisasi dan modernisasi di tengah masyarakat. Bahkan banyak generasi muda tidak mengetahui aksara sasak baik itu bentuk tulisan maupun pelafalannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana aksara sasak ini masih bertahan dalam lingkup masyarakat di era globalisasi dan modernisasi sekarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan survey dan wawancara. Responden penelitian ini adalah orang tua dan remaja. Masalah yang dikaji adalah bagaimana minat generasi muda dalam mengetahui aksara sasak? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat generasi muda dalam mengetahui aksara sasak ternyata sangat rendah. Indikator yang menunjukkan rendahnya minat generasi muda dalam mengetahui aksara sasak antara lain generasi muda menganggap aksara sasak kuno dan kampungan, terjadinnya globalisasi dan modernisasi, kurangnya penyalur cerita dari orang tua zaman dahulu. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perlu beberapa upaya untuk membangkitkan minat generasi muda dalam mengetahui aksara sasak agar tidak terkikis salah satunya dengan pemanfaatan teknologi informasi seperti, membuat konten kreatif mengenai aksara sasak kemudian menguploadnya di akun youtube atau instagram untuk menarik minat para pemuda, membuat buku khusus tentang aksara sasak... Tulisan ini membandingkan dua cerita dari suku yang berbeda. Bahri pada tahun 2018 melakukan kajian berjudul "Perbandingan Cerita Rakyat Sasak dan Samawa Upaya Memahami Masyarakat Sasak dan Samawa Bahri, 2018. ...NFN KambangThis paper aims to compare two folklores, Terjadinya Bukit Tangkiling and Tangkuban Perahu, based on structuralism. These folktale come from two different area. The story of Bukit Tangkiling from the area of Central Kalimantan and Tangkuban Perahu from West Java. These folklores tell the story of a central character who runs away from home as a result of being hit by his mother. That character then grows up and eventually falls in love with his own biological mother. The aim of this writing is to compare Bukit Tangkiling and Tangkupan Perahu in order to reveal who is the first to quote or transform from these two stories. The method used is a qualitative method. The analysis is to reveal the differences and similarities of the central figures in those folklores. The writer found that those stories contain several similarities and events names of characters, settings, plot and ini bertujuan membandingkan cerita rakyat “Terjadinya Bukit Tangkiling” dan “Tangkuban Perahu” dengan pendekatan strukturalisme. Dua cerita rakyat tersebut berasal dari daerah yang berbeda. “Bukit Tangkiling” dari Kalimantan Tengah dan “Tangkuban Perahu” dari Jawa Barat. Dua cerita rakyat itu sama-sama mengisahkan tokoh sentral yang lari dari rumah akibat kepalanya dipukul oleh ibunya. Setelah tumbuh dewasa, tokoh sentral itu jatuh cinta kepada ibu kandungnya sendiri. Dari penulisan ini diharapkan diketahui cerita apa yang mengungkapkan kutipan terlebih dahulu atau mentransformasikan jalan cerita. Metode penulisan ini adalah metode kualitatif. Analisis dilakukan untuk mengungkap perbedaan dan persamaan melalui tokoh sentral yang ada di dalam cerita rakyat tersebut. Penulis menyimpulkan bahwa terdapat beberapa persamaan peristiwa, seperti nama tokoh, latar, alur, dan subtema.... Persinggungan antara dua kelomok etnis tersebut telah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Mengingat daerah Lombok dan sekitarnya adalah wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali Bahri, 2018. Maka dari itu suku Sasak dalam perkembangan sejarahnya banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan Bali. ... Arif Widodop class="JOURNALABSTRACT-TITLE">Lombok Barat memiliki keragaman budaya yang sangat tinggi. Berbagai macam suku, agama dan budaya hidup berdampingan di Lombok Barat. Salah satu bentuk budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat Lombok Barat adalah ritual Perang Topat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai budaya ritual Perang Topat sebagai sumber pembelajaran IPS di sekolah dasar. Penelitian ini didesain dalam bentuk penelitian kualitatif dengan pendekatan etnometodologi. Pendekatan etnometodologi digunakan untuk menggali, menjelaskan memahami, dan menguraikan nilai-nilai budaya yang terdapat pada ritual Perang Topat. Tahapan dalam penelitian ini antara lain pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengumpulan data melalui observasi dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan model analisis tema Spradley. Analisis dilakukan bersama-sama dengan pengumpulan data. Tahapan analisisnya adalah analisis domein, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema kultural. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini antara lain nilai-nilai apa saja yang terdapat pada ritual Perang Topat? Apakah nilai budaya ritual Perang Topat relevan dengan KI/KD atau tema pembelajaran IPS di sekolah dasar? apa saja topik pembelajaran yang relevan dengan nilai budaya ritual Perang Topat? Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual Perang Topat antara lain nilai kompromi, nilai religius, nilai historis, nilai kebersamaan dan persamaan derajat, nilai gotong royong, nilai musyawarah dan kekeluargaan, serta nilai toleransi. Nilai-nilai budaya dalam ritual tersebut relevan dengan topik pembelajaran IPS di kelas IV dan VI. Topik pembelajaran yang relevan dengan nilai budaya ritual Perang Topat antara lain tema 1 “indahnya kebersamaan”, tema 7 “indahnya keragaman di Negeriku” dan tema 8 “daerah tempat tinggalku” yang terdapat di kelas IV serta tema 2 “persatuan dalam perbedaan” di kelas VI.

cerita rakyat sasak dalam bahasa sasak